Showing posts with label Adventure. Show all posts
Showing posts with label Adventure. Show all posts
Tak terasa, lima tahun sudah semburan Lumpur Sidoarjo berlangsung. Semburan Lumpur Lapindo pertama kali menyembur pada tanggal 29 Mei 2006 di Desa Renokenongo, Sidoarjo. Semburan yang telah berlangsung lima tahun itu telah menghancurkan perekonomian rakyat Porong, Jabon dan Tanggulangin. Selama itu pula, banyak persoalan yang belum tuntas. Mulai dari ganti rugi, hingga genangan lumpur yang semakin meluas. Bahkan hingga hari ini, warga yang menjadi korban, masih melakukan unjuk rasa meminta ganti rugi yang sampai saat ini terkatung-katung dan tidak jelas.
Semburan yang diduga terjadi karena adanya underground blowout dari Pemboran Sumur Eksplorasi Banjar Panji (BJP)-1 milik PT Lapindo Brantas Inc. (PT LBI) ini, telah menenggelamkan empat desa, yaitu Kedungbendo, Siring (Timur), Jatirejo (Timur) dan Renokenongo, serta menempatkan sembilan desa lainnya dalam zona bahaya. Lumpur yang keluar setiap harinya diperkirakan sekitar 5.000 hingga 50 ribu meter kubik perhari (setara dengan muatan penuh 690 truk peti kemas berukuran besar). Material semburan ditampung dalam tanggul dengan keliling sekira 23 km, tinggi hingga 6 meter dan menutupi area seluas sekitar 800 hektar. Di dalam tempat penampungan ini terdapat 232 titik bubble (seperti terlihat pada video di bawah ini saat kawan-kawan KuMan AIDS mampir di kawasan Lumpur Lapindo saat perjalanan pulang dari Kota Malang, beberapa tahun yang lalu).
Dengan tenggelamnya empat desa dan terusirnya puluhan ribu orang dari rumah mereka, bukan saja telah menimbulkan persoalan ekonomi, tetapi juga perpindahan karena terpaksa (forced migration) yang merupakan bencana kultural yang luar biasa, karena korban meninggalkan sejarah, cara hidup dan berinteraksi satu sama lain. Bencana lumpur juga mencerabut mereka secara paksa dari jejaring sosial tempat mereka selama ini mengidentifikasikan dirinya.
Karena runtuhnya pijakan sosial kultural bersama yang selama ini menyatukan mereka, korban Lumpur menjadi rapuh dan kehilangan kohesi sosial. Hilangnya sejarah, moda hidup dan interaksi sosial ini turut menjadi katalisator parahnya fragmentasi sosial yang akhir-akhir ini terjadi.
Saat ini jauh lebih penting menangani para korban, daripada berdebat soal pemicu yang tak ada kejelasan. Akhirnya kita hanya dapat berdoa, agar musibah Lumpur Sidoarjo ini dapat segera berakhir.
Semburan yang diduga terjadi karena adanya underground blowout dari Pemboran Sumur Eksplorasi Banjar Panji (BJP)-1 milik PT Lapindo Brantas Inc. (PT LBI) ini, telah menenggelamkan empat desa, yaitu Kedungbendo, Siring (Timur), Jatirejo (Timur) dan Renokenongo, serta menempatkan sembilan desa lainnya dalam zona bahaya. Lumpur yang keluar setiap harinya diperkirakan sekitar 5.000 hingga 50 ribu meter kubik perhari (setara dengan muatan penuh 690 truk peti kemas berukuran besar). Material semburan ditampung dalam tanggul dengan keliling sekira 23 km, tinggi hingga 6 meter dan menutupi area seluas sekitar 800 hektar. Di dalam tempat penampungan ini terdapat 232 titik bubble (seperti terlihat pada video di bawah ini saat kawan-kawan KuMan AIDS mampir di kawasan Lumpur Lapindo saat perjalanan pulang dari Kota Malang, beberapa tahun yang lalu).
Karena runtuhnya pijakan sosial kultural bersama yang selama ini menyatukan mereka, korban Lumpur menjadi rapuh dan kehilangan kohesi sosial. Hilangnya sejarah, moda hidup dan interaksi sosial ini turut menjadi katalisator parahnya fragmentasi sosial yang akhir-akhir ini terjadi.
Saat ini jauh lebih penting menangani para korban, daripada berdebat soal pemicu yang tak ada kejelasan. Akhirnya kita hanya dapat berdoa, agar musibah Lumpur Sidoarjo ini dapat segera berakhir.
Label:
Adventure,
AIDS,
Alam,
Bencana,
Bumi,
Earth,
Environment,
Hijau,
Indonesia,
Kuman,
Lapindo,
Lingkungan,
Lumpur,
Pelestarian,
Sidoarjo
4
komentar
|
Siang itu (lebih dari satu bulan yang lalu) terdengar tanda pesan masuk di ponselku. Sejenak aku melirik ke arah ponselku yang saat itu berada di atas meja, lalu aku raih ponsel itu. Aku baca isi pesannya : “Selamat produk Anda terpilih dalam program memorabilia eiger quest. Silakan kirimkan alamat Anda, dan akan kami konfirmasikan kembali untuk penukaran barangnya. Informasi pemenang ada di fb fans eiger. Terimakasih (Isha Rubiana Eiger)”.
Selang setengah jam kemudian terdengar nada panggilan masuk. Setelah mengucap salam, dari balik sana terdengar suara merdu dari seseorang, ternyata dari Isha Rubiana – Marketing Eiger Cihampelas Bandung. Dia mengkonfirmasi ulang dari SMS-nya yang telah dikirim sebelumnya.
Ada perasaan berat juga saat harus melepas tas carrier/rucksack yang sudah setia menemani kemana aku pergi. Ya.. carrier itu sudah menemani aku ke banyak tempat, antar lain ke puncak Gunung Ciremai, Gunung Slamet, Gunung Gede, Gunung Cikuray atau sekedar camping di Cibunar, Palutungan, Apuy, Argalingga, Telaga Sunyi Baturaden, Penggaron Ungaran, Panjalu Ciamis, Rancaupas dalam Jambore Petualang Indonesia bersama Host dan Fans Jejak Petualang dan banyak tempat lain. Itulah alasan mengapa hampir satu bulan aku belum juga menukarkan carrier lama dengan yang baru. Setelah hampir 15 tahun berpetualang, mungkin memang sudah saatnya carrier ini istirahat. Biarlah semua itu menjadi kenangan.
Dan kulangkahkan juga kaki ini ke Eiger Gramedia Grage Mall untuk melihat calon carrier baruku. Di sana aku langsung disambut Ika Riana yang langsung bertanya “Jadi Mas nuker tasnya?”. Rupanya dia masih ingat waktu aku tanya-tanya tentang carrier sebelum aku ikut program Memorabilia Eiger Quest. Dan akhirnya kurelakan carrierku itu untuk menjadi Memorabilia dan dipajang di New Eiger Adventure Store Bandung. Toh kalau aku kangen, aku masih bisa lihat di Bandung.
Dan sebagai gantinya adalah carrier Dyno 70 + 5 liter. Dengan dimensi : 24 x 34 x 88 cm, bahan Cordura 500D - Cordura 1000D, technology : Ergo Dyno Back System With U Frame & Ergonomic Flexy Accessed Shoulder Straps dan Feature : - Top Loaded with 2 back pocket with Rain Cover accessed - Front Pocket with zipper - 2 Side Pocket - Ice Axe Strap - Sleeping bag Compartment & Additional front loaded compartment - 4 Side Straps Adjuster - Color : - Granite-Black - 2 Strong Handles with 50 mm Nylon Webbing.
Terima kasih untuk Eiger, Isha Rubiana dan Ika Riana.
Ayo Dyno.... sekarang giliranmu.... ajak aku berpetualang ke banyak tempat... Ayo siapa mau ikut......
Selang setengah jam kemudian terdengar nada panggilan masuk. Setelah mengucap salam, dari balik sana terdengar suara merdu dari seseorang, ternyata dari Isha Rubiana – Marketing Eiger Cihampelas Bandung. Dia mengkonfirmasi ulang dari SMS-nya yang telah dikirim sebelumnya.
Ada perasaan berat juga saat harus melepas tas carrier/rucksack yang sudah setia menemani kemana aku pergi. Ya.. carrier itu sudah menemani aku ke banyak tempat, antar lain ke puncak Gunung Ciremai, Gunung Slamet, Gunung Gede, Gunung Cikuray atau sekedar camping di Cibunar, Palutungan, Apuy, Argalingga, Telaga Sunyi Baturaden, Penggaron Ungaran, Panjalu Ciamis, Rancaupas dalam Jambore Petualang Indonesia bersama Host dan Fans Jejak Petualang dan banyak tempat lain. Itulah alasan mengapa hampir satu bulan aku belum juga menukarkan carrier lama dengan yang baru. Setelah hampir 15 tahun berpetualang, mungkin memang sudah saatnya carrier ini istirahat. Biarlah semua itu menjadi kenangan.
Dan kulangkahkan juga kaki ini ke Eiger Gramedia Grage Mall untuk melihat calon carrier baruku. Di sana aku langsung disambut Ika Riana yang langsung bertanya “Jadi Mas nuker tasnya?”. Rupanya dia masih ingat waktu aku tanya-tanya tentang carrier sebelum aku ikut program Memorabilia Eiger Quest. Dan akhirnya kurelakan carrierku itu untuk menjadi Memorabilia dan dipajang di New Eiger Adventure Store Bandung. Toh kalau aku kangen, aku masih bisa lihat di Bandung.
Dan sebagai gantinya adalah carrier Dyno 70 + 5 liter. Dengan dimensi : 24 x 34 x 88 cm, bahan Cordura 500D - Cordura 1000D, technology : Ergo Dyno Back System With U Frame & Ergonomic Flexy Accessed Shoulder Straps dan Feature : - Top Loaded with 2 back pocket with Rain Cover accessed - Front Pocket with zipper - 2 Side Pocket - Ice Axe Strap - Sleeping bag Compartment & Additional front loaded compartment - 4 Side Straps Adjuster - Color : - Granite-Black - 2 Strong Handles with 50 mm Nylon Webbing.
Terima kasih untuk Eiger, Isha Rubiana dan Ika Riana.
Ayo Dyno.... sekarang giliranmu.... ajak aku berpetualang ke banyak tempat... Ayo siapa mau ikut......
.
Kaki merupakan salah satu
bagian penting bagi yang suka jalan-jalan atau berpetualang. Kaki yang sakit, baik itu diakibatkan karena luka luar, terkilir atau patah, dipastikan akan membuat tidak nyaman perjalanan atau petualangan kita.
Bila bagian tubuh yang lain sakit, sedangkan kaki masih sehat, kita masih bisa berjalan mencapai tujuan yang diinginkan. Namun bila badan sehat, tapi kaki patah, maka bisa membuyarkan semua rencana perjalanan dan akan merepotkan teman seiring, karena mereka harus menandu anda. Jadi kaki merupakan salah satu modal utama dan penting bagi yang suka jalan-jalan dan berpetualang di alam bebas.
bagian penting bagi yang suka jalan-jalan atau berpetualang. Kaki yang sakit, baik itu diakibatkan karena luka luar, terkilir atau patah, dipastikan akan membuat tidak nyaman perjalanan atau petualangan kita. Bila bagian tubuh yang lain sakit, sedangkan kaki masih sehat, kita masih bisa berjalan mencapai tujuan yang diinginkan. Namun bila badan sehat, tapi kaki patah, maka bisa membuyarkan semua rencana perjalanan dan akan merepotkan teman seiring, karena mereka harus menandu anda. Jadi kaki merupakan salah satu modal utama dan penting bagi yang suka jalan-jalan dan berpetualang di alam bebas.
Membuat kaki sehat dan kuat tentunya dengan membiasakan kaki tersebut bergerak, sering digunakan jalan ketimbang duduk atau tidur. Kalau tidak sempat berolahraga, lakukan saja yang bisa kita lakukan di keseharian kita, dengan jalan kaki. Misalnya turun dari taksi atau angkot ke kantor atau rumah yang tidak terlalu jauh, jangan disambung dengan ojek atau bajaj atau becak, tapi dengan berjalan kaki. Bila kita ke pasar, toko atau warung makan yang tidak terlalu jauh, yang biasanya naik bajaj, angkot atau ojek, kali ini cobalah dengan berjalan kaki.
Bila kantor kita di lantai 3 atau 4, coba gunakan tangga untuk naik dan turun. Kalau naik berat dan cape, ya pake lift, tapi saat turun kita pakai tangga. Tips ini jangan dilakukan kalau kantor kita di lantai 40 (he..he..he..!). Semakin sering kita jalan, maka otot kaki akan terlatih, kuat dan fleksibel.
Bila kaki sudah cukup kuat dan terlatih. Kita juga harus tahu alas kaki yang baik dan cocok dikenakan selama berpetualang. Alas kaki yang sekenanya, asal dan tidak sesuai dengan medan akan mengakibatkan otot kaki cepat lelah, yang parah lagi bisa mengakibatkan cedera.
Pertama kali yang harus diperhatikan adalah tujuan dari perjalanan kita. Bila kita akan naik gunung maka yang harus kita bawa adalah sepatu gunung. Sepatu gunung didisain memiliki telapak yang baik untuk menapak di tanah, biasanya berupa pul atau gerigi agar ijakan kuat menancap di tanah. Sepatu gunung yang baik juga akan melindungi kaki dari benturan dengan batu, ranting kayu dan onak duri. Makanya sepatu gunung yang baik adalah yang tinggi, hingga menutupi mata kaki.
Kalau sepatu gunung semata kaki terasa berat, bisa juga pakai sepatu gunung yang pendek. Pakailah sepatu g
unung berukuran 1 atau 2 ukuran lebih besar dari biasanya, misalnya kita biasa pakai sepatu kets nomor 40, maka ukuran sepatu gunung kita harus 41 atau 42. Sepatu yang ketat tidak baik untuk kaki. Sepatu gunung yang longgar, dimaksudkan agar kita bisa menggunakan kaos kaki tebal, yang berguna melindungi kaki dari benturan (lebih empuk) dan menghangatkan kaki.Sepatu gunung yang harganya mahal harus kita rawat dengan baik. Saran saya bila tidak sangat kotor atau pernah terbenam dalam lumpur, sepatu gunung jangan terlalu sering di cuci, apalagi dengan merendamnya. Kalau hanya kotor sedikit, lebih baik disikat dengan air saja. Hindari sabun atau deterjen yang keras. Jika sepatu terlalu sering sepatu dicuci dan di rendam bisa mengakibatkan lem dan jahitan berkurang kekuatannya.
Kalau sudah dicuci, jangan di jemur di matahari terik secara langsung. Beberapa bagian dari sepatu tidak tahan panas, bisa mengakibatkan bahan mengeras dan mudah sobek. Jemur sepatu di tempat tidak terlalu panas (hangat atau sejuk) dan bagus lagi kalau berangin. Diperjalanan, kalau sepatu kita basah kuyup, jangan sekali-kali memanggangnya di api unggun. Bukannya kering, yang kita dapat bisa jadi sepatu gosong !!
Kalau tidak ingin cedera ketika mendaki gunung jangan sekali-kali menggunakan sepatu kets atau sepatu olahraga biasa, karena sepatu ini tidak dirancang untuk aktifitas berat dan mempunyai konstruksi yang tidak cocok. Selain tidak akan kuat dan cepat rusak karena sobek, lemnya mengelupas atau jahitanya lepas. Alas sepatu biasanya bertekstur rata, ini berbahaya, karena akan membuat membuat licin bila berjalan di tanah gunung.
Jangan juga mengikuti orang yang pake sandal gunung, apalagi sandal jepit untuk naik gunung. Kelihatannya ringkas dan ringan. Tapi ini sangat sangat berbahaya lagi. Kalau tidak percaya silahkan coba. Tapi tidak ditanggung akibatnya ha..ha...ha...
Sandal gunung atau sandal jepit selain membuat kaki terbuka, tidak terlindung dari batu tajam, onak duri dan patahan kayu yang bisa sewaktu-waktu menusuk kaki. Belum lagi kedua sandal ini rata di bagian alas, licin, bisa mengakibatkan orang yang memakainya tergelincir, bersyukur kalau hanya keseleo, kalau sampai patah atau masuk jurang bagaimana…hih !
Namanya memang sandal gunung, tapi bukan berarti bagus digunakan jalan ke gunung. Sandal gunung cocok bila kita gunakan bila sudah mendirikan tenda, selama aktifitas hilir mudik di camp, untuk ke tenda dapur umum atau mengunjungi tenda pacar di sebelah (halahhhh…)
Begitu juga jika kita akan menyusuri dan melakukan perjalanan panjang di sungai, pilihan alas kaki yang tepat untuk kita gunakan adalah sandal gunung. Loh sandal gunung tapi di sungai. Yups betul sekali. Sandal gunung selain praktis, kuat, tahan air, ringan dan mudah dilepas pasang.
Begitu juga jika kita akan menyusuri dan melakukan perjalanan panjang di sungai, pilihan alas kaki yang tepat untuk kita gunakan adalah sandal gunung. Loh sandal gunung tapi di sungai. Yups betul sekali. Sandal gunung selain praktis, kuat, tahan air, ringan dan mudah dilepas pasang.
Sepatu gunung atau sepatu kets tidak cocok dipakai di sekitar sungai. Karena selain berat juga licin selama hilir mudik di perahu, apalagi bila kita harus turun dari perahu dan jalan di tepi sungai yang licin dan berair. Namun bila turun dari perahu dan melanjutkan perjalanan darat masuk hutan keluar hutan kita wajib pake kembali sepatu outdoor. Sandal gunung juga cocok digunakan bila kita akan jalan-jalan menyusuri keindahan pantai atau ketika berarung jeram.
Lain halnya bila kita hendak caving atau menyusuri goa, alas kaki yang cocok digunakan adalah sepatu boat. Sepatu ini selain hangat, juga melindungi kaki dari benturan dengan bebatuan goa dan goresan dinding goa yang tajam.
Jadi saya kira yang pas untuk alas kaki, aman dan nyaman selama kita jalan-jalan di alam bebas atau bertualang adalah membawa sepatu khusus untuk aktifitas di outdoor dan sandal gunung. Itu sudah cukup. Simpan alas kaki lainnya di rumah.
Selamat bertualang…. jangan lupa berdoa.
Dody Johanjaya

Sering kali kita dikecewakan oleh peralatan kita seperti tenda, poncho, ransel, dan sleeping bag. Pasalnya peralatan tersebut baru saja kita beli dan setelah dua sampai tiga kali kita pakai, peralatan tersebut sudah kehilangan anti airnya.
Berangkat dari pengalaman tersebut kami ingin membagi ilmu. Bagaimana caranya untuk mengembalikan anti air tersebut ?
Pertama
Sediakan 100 gram tawas (aulin), 200 gram loodacetat. Masing-masing dilarutkan dalam 1,5 liter air dan didiamkan selama 12 jam. Setelah itu campurkan bagian jernih dari kedua larutan itu. Kemudian setelah kotoran-kotorannya dibuang, pada campuran itu tambahkan 3 liter air lagi.
Nah, anda dapat mulai memasukkan peralatan yang telah dicuci bersih. Diamkan selama 24 jam. Jangan lupa balikkan peralatan tersebut agar basahnya merata. Keringkan peralatan tersebut tanpa diperas dan anda telah memiliki peralatan yang anti air kembali.
Kedua
Sediakan 25 gram sabun cuci, 25 gram agar-agar, 1,5 liter air panas dan 25 gram tawas. Larutkan sabun dan agar-agar tersebut dalam air panas yang telah disediakan tadi. Setelah hancur tambahkan 2 liter air dingin.
Masukan ransel yang telah dicuci dan direndam selama 24 jam, keringkan tanpa diperas dan jemurlah hingga kering.
Demikianlah jurus-jurus ampuh untuk mengembalikan anti air pada peralatan gunung kita.
Berangkat dari pengalaman tersebut kami ingin membagi ilmu. Bagaimana caranya untuk mengembalikan anti air tersebut ?
Pertama
Sediakan 100 gram tawas (aulin), 200 gram loodacetat. Masing-masing dilarutkan dalam 1,5 liter air dan didiamkan selama 12 jam. Setelah itu campurkan bagian jernih dari kedua larutan itu. Kemudian setelah kotoran-kotorannya dibuang, pada campuran itu tambahkan 3 liter air lagi.
Nah, anda dapat mulai memasukkan peralatan yang telah dicuci bersih. Diamkan selama 24 jam. Jangan lupa balikkan peralatan tersebut agar basahnya merata. Keringkan peralatan tersebut tanpa diperas dan anda telah memiliki peralatan yang anti air kembali.
Kedua
Sediakan 25 gram sabun cuci, 25 gram agar-agar, 1,5 liter air panas dan 25 gram tawas. Larutkan sabun dan agar-agar tersebut dalam air panas yang telah disediakan tadi. Setelah hancur tambahkan 2 liter air dingin.
Masukan ransel yang telah dicuci dan direndam selama 24 jam, keringkan tanpa diperas dan jemurlah hingga kering.
Demikianlah jurus-jurus ampuh untuk mengembalikan anti air pada peralatan gunung kita.
Selamat mencoba!
Diambil dari buku “Perkemahan” karya Suardiman Ranu Widjojo
Semoga bermanfaat
Sumber : situs cartenz adventure shop
Lokasi : Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat
Lewat Jalur Pemancar, Garut
Tanggal : 23-25 Oktober 2009
Setelah rehat panjang karena libur bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, senang rasanya dapat kembali bercengkerama dengan alam lagi. Kali ini yang menjadi target sasaran kami adalah Gunung Cikuray di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung Cikuray..?? Begitulah pertanyaan sebagian kawan-kawan ketika nama Gunung Cikuray disebut. Walaupun gunung ini termasuk gunung tertinggi ke empat di Jawa Barat sesudah Gunung Ciremai, Pangrango dan Gede, namun Gunung Cikuray ini kalah tenar dibanding dengan gunung di sekitarnya semisal Gunung Papandayan. Lantas mengapa kami lebih memilih Gunung Cikuray..??
Yang utama, belum ada seorang pun dari kami yang pernah ke sana. Alasan yang lebih menggiurkan bagi kami adalah gambaran jalur Cikuray yang cukup menantang dan belum banyak dilalui pendaki.
Jumat, 23 Oktober 2009
Setelah semua berkumpul, tepat pukul 21.00 WIB akhirnya kami berangkat menuju TKP, terlambat satu jam dari rencana keberangkatan yang semula pukul 20.00 WIB. Sebagian besar peserta nampaknya memanfaatkan benar waktu dalam perjalanan ini untuk beristirahat, hanya satu dua orang saja yang bercakap-cakap, itupun terpaksa karena tidak bisa tidur sebab suhu AC di bis ini dingin bangets.
Sabtu, 24 Oktober 2009
Kurang lebih pukul 01.30 WIB, rombongan tiba di Dayeuh Manggung, sebuah daerah perkebunan yang berada di kaki gunung Cikuray. Sambil menunggu rombongan dari Bandung, waktu yang ada kami gunakan untuk beristirahat di Rumah Makan Sari Muna / Masjid Hidayatul Muna. Sembari menunggu, kawan-kawan ada yang tidur, ada yang pura-pura tidur, ada yang ngobrol di Masjid, ada yang minum kopi di halaman Rumah Makan, ada yang ngelamun, ada yang ngupil (eh ada nggak ya…??)
Setelah rombongan dari Bandung datang, langsung berkemas untuk cabut ke Pos Pendaftaran di Pos PT Perkebunan Nusantara VII. Tidak seperti di gunung lainnya, perijinan mendaki cukup disampaikan lisan kepada Petugas Satpam perkebunan teh. Hal ini untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu terjadi selama pendakian. Di sana memang belum ada pos pendakian yang dibuat resmi. Ini menjadi salah satu tanda bahwa gunung ini masih jarang dikunjungi pendaki.
Untuk mencapai Pos Pemancar bisa menggunakan kendaraan (biasanya bak terbuka atau ojek) yang dapat meringkas waktu perjalanan empat jam menjadi satu sampai dua jam. Biasanya mobil dari luar hanya boleh sampai di sini, tapi karena sudah koordinasi dan negoisasi sebelumnya diputuskan bis tetap naik sampai pemancar, namun karena jalan tidak memungkinkan, di tengah jalan kami berganti kendaraan memakai mobil Innova untuk sambung lagi pakai bak terbuka di tengah perjalanan. Disepakati Aku, Santo, Linggar dan Soni jalan duluan sambil membawa sebagian barang dan logistik. Setelah menempuh waktu lebih dari setengah jam, tepat pukul 02.45 WIB kami bertemu mobil bak terbuka dimaksud.
Jumat, 23 Oktober 2009
Setelah semua berkumpul, tepat pukul 21.00 WIB akhirnya kami berangkat menuju TKP, terlambat satu jam dari rencana keberangkatan yang semula pukul 20.00 WIB. Sebagian besar peserta nampaknya memanfaatkan benar waktu dalam perjalanan ini untuk beristirahat, hanya satu dua orang saja yang bercakap-cakap, itupun terpaksa karena tidak bisa tidur sebab suhu AC di bis ini dingin bangets.
Sabtu, 24 Oktober 2009
Kurang lebih pukul 01.30 WIB, rombongan tiba di Dayeuh Manggung, sebuah daerah perkebunan yang berada di kaki gunung Cikuray. Sambil menunggu rombongan dari Bandung, waktu yang ada kami gunakan untuk beristirahat di Rumah Makan Sari Muna / Masjid Hidayatul Muna. Sembari menunggu, kawan-kawan ada yang tidur, ada yang pura-pura tidur, ada yang ngobrol di Masjid, ada yang minum kopi di halaman Rumah Makan, ada yang ngelamun, ada yang ngupil (eh ada nggak ya…??)
Setelah rombongan dari Bandung datang, langsung berkemas untuk cabut ke Pos Pendaftaran di Pos PT Perkebunan Nusantara VII. Tidak seperti di gunung lainnya, perijinan mendaki cukup disampaikan lisan kepada Petugas Satpam perkebunan teh. Hal ini untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu terjadi selama pendakian. Di sana memang belum ada pos pendakian yang dibuat resmi. Ini menjadi salah satu tanda bahwa gunung ini masih jarang dikunjungi pendaki.
Untuk mencapai Pos Pemancar bisa menggunakan kendaraan (biasanya bak terbuka atau ojek) yang dapat meringkas waktu perjalanan empat jam menjadi satu sampai dua jam. Biasanya mobil dari luar hanya boleh sampai di sini, tapi karena sudah koordinasi dan negoisasi sebelumnya diputuskan bis tetap naik sampai pemancar, namun karena jalan tidak memungkinkan, di tengah jalan kami berganti kendaraan memakai mobil Innova untuk sambung lagi pakai bak terbuka di tengah perjalanan. Disepakati Aku, Santo, Linggar dan Soni jalan duluan sambil membawa sebagian barang dan logistik. Setelah menempuh waktu lebih dari setengah jam, tepat pukul 02.45 WIB kami bertemu mobil bak terbuka dimaksud.
Tapi karena bahan bakarnya kosong, terpaksa mobil turun dulu dan kami diminta menunggu di sana. Rencana berubah, karena mobil bak terbuka turun dan cukup untuk mengangkut semua personel, mobil Innova diminta turun juga. Karena mobil dalam keadaan kosong, maka sering slip. Agar tidak slip Santo, Linggar dan Sony diminta naik sebagai pemberat sampai jalan agak bagus (kurang lebih 0,5-1 km). Waduh bisa dibayangkan, aku ditinggal sendirian di suatu tempat yang gelap tanpa cahaya sedikitpun. Hanya suara gemercik air yang saat itu aku sendiri tak tahu di sebelah mana aliran airnya. Keadaan sekitar? Aku sendiri belum tahu bagaimana keadannya. Yang aku tahu dari siluet langit, sebelah kanan, kiri dan belakangku adalah bukit. Setelah sendirian di kegelapan dari pukul 03.30 WIB, akhirnya mulai tampak fajar di ufuk timur, seiring kemunculan Santo, Linggar dan Sony.
Pukul 05.30 WIB rombongan dari bawah muncul juga, langsung kami bergabung menuju Pos Pemancar. Kami naik mobil bak terbuka diiring jerit histeris karena jalannya kecil dan rusak ditambah beberapa tikungan tajam, sementara sebelah kanan dan kiri jurang yang dalam siap menelan. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Pos Pemancar. Istirahat sebentar sambil reload kekuatan dan sarapan pagi langsung siap mendaki.
Dalam pembagian regu, selalu saja aku dapat regu pembuka jalan yaitu regu pertama (padahal aku selalu diomelin kalo nyampe duluan). Kali ini aku bareng ama Santo, Mbak Andar dan Mbak Jati. Karena ini adalah perjalanan pertama bagi Mbak Andar dan Mbak Jati maka perjalanan sengaja dibuat sesantai mungkin sesuai kemampuan mereka. Tapi tetap saja kami melangkah jauh di depan yang lain.
Selepas perkebunan teh dan penduduk, regu satu mulai pecah. Aku bereng Mbak Jati di depan, Santo dan Mbak Andar di belakang. Di jalur itu kami melewati akar-akar pohon yang besar. Aku melihat pohon tumbang di sepanjang jalur, kemungkinan roboh karena diterjang angin kencang, kemudian tanahnya sedikit ikut longsor. Bulan Oktober memang berada dalam masa musim hujan. Maka tak heran jika hujan terus turun dan sesekali disertai angin yang cukup hebat.
Di tengah perjalanan, kabut mulai turun diiringi gerimis kecil. Celaka… raincoat-ku ada di Santo. Aku nggak bilang tentang raincoat ini ke Mbak Jati, karena aku lihat semangatnya terus menyala dan tak ingin mengganggunya. Namun aku berusaha memanggil Santo namun tak ada jawaban (yang menandakan jarak kami terlalu jauh). Tapi untung hujan tak jadi turun.
Selang setengah jam berikutnya, saat kami sedang berbincang di jalan dengan rombongan dari Bekasi gerimis kembali datang, kali ini agak deras namun sebentar. Kali ini aku berterus terang tentang raincoat ini. Aku usul agar Mbak Jati ikut sebentar dengan rombongan Bekasi, sementara aku turun untuk mengambil raincoat dan segera menyusul. Namun Mbak Jati tak bersedia dengan alasan tak akan mampu mengimbangi kecepatan rombongan dari Bekasi (padahal rombongan Bekasi ini berangkat lebih awal dan dapat disusul kami). Melihat kondisi seperti ini, akhirnya aku pasrah jika seandainya harus kehujanan.
Dan ternyata benar, hujan akhirnya turun juga dengan derasnya. Aku terpaksa hujan-hujanan di atas ketinggian 2550-an mdpl. Setelah diskusi dengan Mbak Jati akhirnya kami putuskan untuk terus jalan menuju puncak dengan asumsi pasti ada tenda di pos bayangan karena rombongan yang berangkat jumat malam belum kembali.
Tapi karena satu lain hal, diputuskan untuk gabung dengan rombongan bekasi dan membuat tenda untuk istirahat sambil menghangatkan badan. Setelah satu jam menunggu, Santo dan Mbak Andar muncul juga. Segera aku ganti baju dan melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada rombongan Bekasi.
Seiring dengan suara adzan ashar, kami tiba di Puncak Bayangan, itulah puncak pertama yang kami temui. Sedikit lelah bercampur senang, kami beristirahat di sebidang tanah lapang yang dikelilingi pepohonan tinggi. Rupanya kami tidak ingin repot dengan pilihan tempat untuk beristirahat. Tanpa tunggu perintah kami segera mendirikan tenda sambil menunggu rombongan yang lain tiba. Setelah tenda bediri segera ambil posisi tidur sampai pagi untuk naik lagi.
Jumat, 25 Oktober 2009
Pagi pukul lima, kami bangun. Sambil sarapan dan minum kopi, kami berkemas. Setelah berkemas, kami kembali meneruskan perjalanan hingga melewati jalur punggung bukit. Untuk mencapainya, kami harus melewati jalur yang sulit. Melewatinya pun harus hati-hati dan dibutuhkan kerjasama. Satu per satu dari kami melewati rintangan itu. Menurutku, kesabaran, kegigihan, ketrampilan, dan stamina yang baik sangat perlu dimiliki oleh setiap pendaki.
Kali ini aku naik di posisi paling belakang bareng Santo dan Mbak Mida. Di tengah jalan Mbak Mida sakit perut, mungkin karena belum sarapan. Untung dalam tasku ada dua kotak susu dan satu botol air mineral, langsung aku suruh istirahat dan minum susu dulu sampai rasa sakitnya hilang.
Tak berapa lama, akhirnya kami temui dataran luas yang ditumbuhi alang-alang dengan satu bangunan mirip gardu di tengahnya. Itulah Puncak Gunung Cikuray. View dari Puncak Cikuray sangat indah … terlihat pemandangan desa di kaki gunung, pemandangan gunung papandayan dan pegunungan lain, gumpalan awan seperti kapas teronggok disana sini…… kerennn buanget…. Benar-benar takjub melihat indahnya ciptaan Tuhan.
|
![]() |
Namun pagi ini, angin terasa cukup bertenaga menerpa tubuh dan wajah kami, kami segera menujun ke bangunan pos, namun tak cukup membantu karena di dalam pun angin bertiup kencang. Ingin rasanya lebih lama di puncak, namun kami harus segera kembali ke Pos Bayangan dan kembali ke bawah, kalau tidak ingin kehujanan di tengah jalan lagi (maklum pakaian yang kering tinggal yang ada di badan saja, kalau sampai basah lagi, pulang nanti pakai apa…??)
|
Tak sampai satu jam, kami sudah tiba kembali di Pos Bayangan. Langsung sarapan dan packing ulang untuk perjalanan pulang. Pukul 10.00 WIB kami berkemas untuk membawa semua peralatan. Hanya empat jam saja waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan turun.
Setelah melewati kawasan hutan yang lebat, kami memasuki kawasan perkebunan. Di jalur itu kami temui ladang, kebun dan alang-alang. Di kanan dan kiri jalur ditanami rumput untuk pakan ternak sedang di bawah tampak kebun teh yang terhampar hijau. Dari sini Pos Pemancar sudah terlihat, artinya sebentar lagi kita akan sampai.
Setelah melewati perkebunan teh, akhirnya kami sampai juga di Pos Pemancar tepat pukul 14.00 WIB. Sambil menunggu kawan-kawan yang lain, kami coba luruskan kaki yang terasa lelah ini.
Setelah semua turun, langsung cabut ke bawah menggunakan mobil bak terbuka lagi, waduh…rasanya seperti sedang ikut rodeo, itu lho naik banteng ngamuk. Sempat khawatir juga karena di tengah jalan hujan kembali turun. Ditemani gerimis akhirnya perjalanan berakhir di Rumah Makan Sari Muna. Setelah mandi, shalat (karena nggak ada sarung terpaksa pakai bawahan mukena) dan makan, tepat pukul 16.30 WIB kami kembali ke Cirebon.
Diselingi istirahat sebentar untuk makan (lagi) di Sumedang, akhirnya tepat pikul 22.30 WIB kami tiba di Cirebon……
Data koordinat :
Pos Pemancar : 07º 18′ 27″ – 107º 52′ 92″ – 1460mdpl
Pos 1 : 07º 19′ 01″ – 107º 52′ 37″ – 2066mdpl
Pos 2 : 07º 19′ 17″ – 107º 52′ 26″ – 2244mdpl
Pos 3 : 07º 19′ 32″ – 107º 51′ 98″ – 2539mdpl
Puncak Cikurai : 07º 19′ 25″ – 107º 51′ 40″ – 2813mdpl
-->
Label:
Adventure,
Cikuray,
Climbing,
Dayeuhmanggung,
Garut,
Gunung,
Jejak,
Kebun Teh,
Pemancar,
Perjalanan,
Petualang,
Puncak
0
komentar
|









