Mengurai Gunung Cikuray

Lokasi : Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat
Lewat Jalur Dayeuhmanggung, Garut
Tanggal : 23-25 Oktober 2009


Setelah rehat panjang karena libur bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, senang rasanya dapat kembali bercengkerama dengan alam lagi. Kali ini yang menjadi target sasaran kami adalah Gunung Cikuray di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung Cikuray..?? Begitulah pertanyaan sebagian kawan-kawan ketika nama Gunung Cikuray disebut. Walaupun gunung ini termasuk gunung tertinggi ke empat di Jawa Barat sesudah Gunung Ciremai, Pangrango dan Gede, namun Gunung Cikuray ini kalah tenar dibanding dengan gunung di sekitarnya semisal Gunung Papandayan. Lantas mengapa kami lebih memilih Gunung Cikuray..??


Yang utama, belum ada seorang pun dari kami yang pernah ke sana. Alasan yang lebih menggiurkan bagi kami adalah gambaran jalur Cikuray yang cukup menantang dan belum banyak dilalui pendaki.

Jumat, 23 Oktober 2009

Setelah semua berkumpul, tepat pukul 21.00 WIB akhirnya kami berangkat menuju TKP, terlambat satu jam dari rencana keberangkatan yang semula pukul 20.00 WIB. Sebagian besar peserta nampaknya memanfaatkan benar waktu dalam perjalanan ini untuk beristirahat, hanya satu dua orang saja yang bercakap-cakap, itupun terpaksa karena tidak bisa tidur sebab suhu AC di bis ini dingin bangets.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Kurang lebih pukul 01.30 WIB, rombongan tiba di Dayeuh Manggung, sebuah daerah perkebunan yang berada di kaki gunung Cikuray. Sambil menunggu rombongan dari Bandung, waktu yang ada kami gunakan untuk beristirahat di Rumah Makan Sari Muna / Masjid Hidayatul Muna. Sembari menunggu, kawan-kawan ada yang tidur, ada yang pura-pura tidur, ada yang ngobrol di Masjid, ada yang minum kopi di halaman Rumah Makan, ada yang ngelamun, ada yang ngupil (eh ada nggak ya…??)

Setelah rombongan dari Bandung datang, langsung berkemas untuk cabut ke Pos Pendaftaran di Pos PT Perkebunan Nusantara VII. Tidak seperti di gunung lainnya, perijinan mendaki cukup disampaikan lisan kepada Petugas Satpam perkebunan teh. Hal ini untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu terjadi selama pendakian. Di sana memang belum ada pos pendakian yang dibuat resmi. Ini menjadi salah satu tanda bahwa gunung ini masih jarang dikunjungi pendaki.



Untuk mencapai Pos Pemancar bisa menggunakan kendaraan (biasanya bak terbuka atau ojek) yang dapat meringkas waktu perjalanan empat jam menjadi satu sampai dua jam. Biasanya mobil dari luar hanya boleh sampai di sini, tapi karena sudah koordinasi dan negoisasi sebelumnya diputuskan bis tetap naik sampai pemancar, namun karena jalan tidak memungkinkan, di tengah jalan kami berganti kendaraan memakai mobil Innova untuk sambung lagi pakai bak terbuka di tengah perjalanan. Disepakati Aku, Santo, Linggar dan Soni jalan duluan sambil membawa sebagian barang dan logistik. Setelah menempuh waktu lebih dari setengah jam, tepat pukul 02.45 WIB kami bertemu mobil bak terbuka dimaksud.


Tapi karena bahan bakarnya kosong, terpaksa mobil turun dulu dan kami diminta menunggu di sana. Rencana berubah, karena mobil bak terbuka turun dan cukup untuk mengangkut semua personel, mobil Innova diminta turun juga. Karena mobil dalam keadaan kosong, maka sering slip. Agar tidak slip Santo, Linggar dan Sony diminta naik sebagai pemberat sampai jalan agak bagus (kurang lebih 0,5-1 km). Waduh bisa dibayangkan, aku ditinggal sendirian di suatu tempat yang gelap tanpa cahaya sedikitpun. Hanya suara gemercik air yang saat itu aku sendiri tak tahu di sebelah mana aliran airnya. Keadaan sekitar? Aku sendiri belum tahu bagaimana keadannya. Yang aku tahu dari siluet langit, sebelah kanan, kiri dan belakangku adalah bukit. Setelah sendirian di kegelapan dari pukul 03.30 WIB, akhirnya mulai tampak fajar di ufuk timur, seiring kemunculan Santo, Linggar dan Sony.

Pukul 05.30 WIB rombongan dari bawah muncul juga, langsung kami bergabung menuju Pos Pemancar. Kami naik mobil bak terbuka diiring jerit histeris karena jalannya kecil dan rusak ditambah beberapa tikungan tajam, sementara sebelah kanan dan kiri jurang yang dalam siap menelan. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Pos Pemancar. Istirahat sebentar sambil reload kekuatan dan sarapan pagi langsung siap mendaki.


Dalam pembagian regu, selalu saja aku dapat regu pembuka jalan yaitu regu pertama (padahal aku selalu diomelin kalo nyampe duluan). Kali ini aku bareng ama Santo, Mbak Andar dan Mbak Jati. Karena ini adalah perjalanan pertama bagi Mbak Andar dan Mbak Jati maka perjalanan sengaja dibuat sesantai mungkin sesuai kemampuan mereka. Tapi tetap saja kami melangkah jauh di depan yang lain.


Selepas perkebunan teh dan penduduk, regu satu mulai pecah. Aku bereng Mbak Jati di depan, Santo dan Mbak Andar di belakang. Di jalur itu kami melewati akar-akar pohon yang besar. Aku melihat pohon tumbang di sepanjang jalur, kemungkinan roboh karena diterjang angin kencang, kemudian tanahnya sedikit ikut longsor. Bulan Oktober memang berada dalam masa musim hujan. Maka tak heran jika hujan terus turun dan sesekali disertai angin yang cukup hebat.


Di tengah perjalanan, kabut mulai turun diiringi gerimis kecil. Celaka… raincoat-ku ada di Santo. Aku nggak bilang tentang raincoat ini ke Mbak Jati, karena aku lihat semangatnya terus menyala dan tak ingin mengganggunya. Namun aku berusaha memanggil Santo namun tak ada jawaban (yang menandakan jarak kami terlalu jauh). Tapi untung hujan tak jadi turun.

Selang setengah jam berikutnya, saat kami sedang berbincang di jalan dengan rombongan dari Bekasi gerimis kembali datang, kali ini agak deras namun sebentar. Kali ini aku berterus terang tentang raincoat ini. Aku usul agar Mbak Jati ikut sebentar dengan rombongan Bekasi, sementara aku turun untuk mengambil raincoat dan segera menyusul. Namun Mbak Jati tak bersedia dengan alasan tak akan mampu mengimbangi kecepatan rombongan dari Bekasi (padahal rombongan Bekasi ini berangkat lebih awal dan dapat disusul kami). Melihat kondisi seperti ini, akhirnya aku pasrah jika seandainya harus kehujanan.




Dan ternyata benar, hujan akhirnya turun juga dengan derasnya. Aku terpaksa hujan-hujanan di atas ketinggian 2550-an mdpl. Setelah diskusi dengan Mbak Jati akhirnya kami putuskan untuk terus jalan menuju puncak dengan asumsi pasti ada tenda di pos bayangan karena rombongan yang berangkat jumat malam belum kembali.

Tapi karena satu lain hal, diputuskan untuk gabung dengan rombongan bekasi dan membuat tenda untuk istirahat sambil menghangatkan badan. Setelah satu jam menunggu, Santo dan Mbak Andar muncul juga. Segera aku ganti baju dan melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada rombongan Bekasi.

Seiring dengan suara adzan ashar, kami tiba di Puncak Bayangan, itulah puncak pertama yang kami temui. Sedikit lelah bercampur senang, kami beristirahat di sebidang tanah lapang yang dikelilingi pepohonan tinggi. Rupanya kami tidak ingin repot dengan pilihan tempat untuk beristirahat. Tanpa tunggu perintah kami segera mendirikan tenda sambil menunggu rombongan yang lain tiba. Setelah tenda bediri segera ambil posisi tidur sampai pagi untuk naik lagi.


Jumat, 25 Oktober 2009

Pagi pukul lima, kami bangun. Sambil sarapan dan minum kopi, kami berkemas. Setelah berkemas, kami kembali meneruskan perjalanan hingga melewati jalur punggung bukit. Untuk mencapainya, kami harus melewati jalur yang sulit. Melewatinya pun harus hati-hati dan dibutuhkan kerjasama. Satu per satu dari kami melewati rintangan itu. Menurutku, kesabaran, kegigihan, ketrampilan, dan stamina yang baik sangat perlu dimiliki oleh setiap pendaki.



Kali ini aku naik di posisi paling belakang bareng Santo dan Mbak Mida. Di tengah jalan Mbak Mida sakit perut, mungkin karena belum sarapan. Untung dalam tasku ada dua kotak susu dan satu botol air mineral, langsung aku suruh istirahat dan minum susu dulu sampai rasa sakitnya hilang.


Tak berapa lama, akhirnya kami temui dataran luas yang ditumbuhi alang-alang dengan satu bangunan mirip gardu di tengahnya. Itulah Puncak Gunung Cikuray. View dari Puncak Cikuray sangat indah … terlihat pemandangan desa di kaki gunung, pemandangan gunung papandayan dan pegunungan lain, gumpalan awan seperti kapas teronggok disana sini…… kerennn buanget…. Benar-benar takjub melihat indahnya ciptaan Tuhan.


Namun pagi ini, angin terasa cukup bertenaga menerpa tubuh dan wajah kami, kami segera menujun ke bangunan pos, namun tak cukup membantu karena di dalam pun angin bertiup kencang. Ingin rasanya lebih lama di puncak, namun kami harus segera kembali ke Pos Bayangan dan kembali ke bawah, kalau tidak ingin kehujanan di tengah jalan lagi (maklum pakaian yang kering tinggal yang ada di badan saja, kalau sampai basah lagi, pulang nanti pakai apa…??)



Tak sampai satu jam, kami sudah tiba kembali di Pos Bayangan. Langsung sarapan dan packing ulang untuk perjalanan pulang. Pukul 10.00 WIB kami berkemas untuk membawa semua peralatan. Hanya empat jam saja waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan turun.


Setelah melewati kawasan hutan yang lebat, kami memasuki kawasan perkebunan. Di jalur itu kami temui ladang, kebun dan alang-alang. Di kanan dan kiri jalur ditanami rumput untuk pakan ternak sedang di bawah tampak kebun teh yang terhampar hijau. Dari sini Pos Pemancar sudah terlihat, artinya sebentar lagi kita akan sampai.


Setelah melewati perkebunan teh, akhirnya kami sampai juga di Pos Pemancar tepat pukul 14.00 WIB. Sambil menunggu kawan-kawan yang lain, kami coba luruskan kaki yang terasa lelah ini.


Setelah semua turun, langsung cabut ke bawah menggunakan mobil bak terbuka lagi, waduh…rasanya seperti sedang ikut rodeo, itu lho naik banteng ngamuk. Sempat khawatir juga karena di tengah jalan hujan kembali turun. Ditemani gerimis akhirnya perjalanan berakhir di Rumah Makan Sari Muna. Setelah mandi, shalat (karena nggak ada sarung terpaksa pakai bawahan mukena) dan makan, tepat pukul 16.30 WIB kami kembali ke Cirebon.


Diselingi istirahat sebentar untuk makan (lagi) di Sumedang, akhirnya tepat pikul 22.30 WIB kami tiba di Cirebon……

Data koordinat :
Pos Pemancar : 07º 18′ 27″ – 107º 52′ 92″ – 1460mdpl
Pos 1 : 07º 19′ 01″ – 107º 52′ 37″ – 2066mdpl
Pos 2 : 07º 19′ 17″ – 107º 52′ 26″ – 2244mdpl
Pos 3 : 07º 19′ 32″ – 107º 51′ 98″ – 2539mdpl
Puncak Cikurai : 07º 19′ 25″ – 107º 51′ 40″ – 2813mdpl





-->
0 Responses
  • CO2 in Atmosphere



    Followers