Showing posts with label Gunung. Show all posts
Showing posts with label Gunung. Show all posts
Makan
Kadang kita meremehkan sarapan pagi, karena malas atau ingin cepat-cepat jalan, kadang kita memasak makanan pagi seadanya, cukup mie instant atau makan beberapa potong biskuit saja. Justru di pagil hariah kita harus makan besar, nasi dengan segala lauk pauknya jejalkan ke perut. Karena pagi disaat kita mulai melakukan pendakian kita butuh tenaga atau energi yang semuanya diperoleh dari karbohidrat (nasi, havermut, kentang, mie). Kalau makan seadanya, maka badan akan lemas dan kita tidak cukup kuat untuk mendaki.
Makan besar kita buat lagi ketika makan siang, untuk menggantikan energi yang habis terbakar selama pendakian setengah hari. Selama pendakian, daripada ngelamun jorok lebih baik ngemil. Cemilan bisa berupa permen, biskuit, pisang, dodol, gula merah, kacang-kacangan, coklat dan sebagainya. Makanan kecil ini mampu menambah energi dan semangat.
Bila malam tiba, maka waktu memasak lebih leluasa, kita bisa berkreasi untuk memasak makan malam. Namun utamakan memasak makanan yang mengandung protein seperti ikan, ayam dan telur. Protein ini dibutuhkan untuk mengganti sel-sel yang rusak akibat aktifitas pendakian seharian.
Malam hari kita tidak butuh tenaga besar, karena selesai masak kita akan tidur, kecuali kalau memang mau ronda di gunung. Karena tidak butuh tenaga, maka kurangi makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, kentang dan lain-lainya. Karena tubuh tak bergerak, karbohidrat yang tidak terbakar sehingga akan menjadi lemak. Kecuali memang kita memang punya perut melayu, belum makan, kalau tidak makan nasi, maka silahkan saja makan nasi sampai gembul.
Melangkah
Berjalanlah perlahan dengan langkah pendek ketika menyusuri trek yang menanjak. Lebih baik jalan perlahan, sedikit istirahat dengan jarak tempuh yang panjang/jauh, daripada jalan cepat dengan jarak tempuh pendek dan berulangkali beristirahat. Berjalan perlahan, berguna untuk membiasakan otot dan jantung bekerja dengan stabil dan tidak mengagetkan. Kalau kita masih bisa ngobrol dengan temen seperjalanan kita, berarti kita berjalan dengan baik karena nafas tidak memburu. Berjalan cepat, bisa mengakibatkan otot jantung kaget dan otot kaki atau perut bisa kram.
Pilihlah jalan yang datar, lebih baik jalan memutar sedikit daripada memilih trek terjal mendaki. Selain lebih aman, juga tidak membuat kaget dan lelah otot kaki. Pilih pijakan kaki yang tidak tinggi. Memilih pijakan tinggi apalagi dengan menggunakan tangan untuk menarik badan kita memang akan cepat mencapai ketinggian, namun percayalah cara ini akan membuat tenaga anda cepat terkuras dan cepat lelah. Tidak masalah kalau anda mempunyai fisik prima dan sering berlatih, tenaga akan cepat pulih. Namun bagi yang tidak mempunyai fisik prima, akan lemas, tidak bertenaga, lama pulih dan bisa jadi pusing, mata berkunang-kunang dan kaki bisa kram.Cermat memilih pijakan di tanah, hati-hati dengan akar yang keluar dari tanah atau menyilang di tengah trek, biasanya akar licin membuat kita tergelincir ketika di injak. Akar pohon, batu berlumut atau yang labil dan mudah bergeser lebih baik dihindari, tidak usah diinjak. Perhatikan dan konsentrasi penuh ketika meniti batang pohon, gesek-gesek dahulu telapak sepatu ke batu atau kayu untuk melepaskan tanah dan lumpur yang menempel, agar telapak tidak licin. Pastikan kayu yang akan kita injak atau kita raih kuat dan tidak rapuh atau mudah patah.
Kencangkan ikatan ransel di punggung, jangan sampai ransel bergoyang kekiri atau ke kanan yang hanya akan mengurangi keseimbangan ketika kita melangkah meniti sebatang kayu. Bebaskan kedua tangan dari barang apapun, kedua tangan nantinya akan kita gunakan untuk keseimbangan.
Pilih pijakan dengan benar di batang pohon, pastikan kita tidak menginjak bagian berlumut. Melangkahlah dengan tenang, tidak usah tergesa, konsentrasi penuh, perlahan namun pasti kita bergerak maju selangkah demi selangkah.
Ketika memanjat dinding tanah yang terjal, pilih tumpuan dengan benar, kalau menginjak batu pastikan batu tersebut kuat dan tidak rapuh, kalau tidak ada batu, kita tendang-tendang tanah hingga berlobang sebagai pijakan.
Untuk pegangan hati-hati bila menggapai batang pohon, pastikan kuat dan tidak mudah tercabut akarnya. Jangan pegang tumbuhan berduri dan batang pohon mati, karena sebesar apapun batang pohon mati, kemungkinan besar rapuh dan mudah patah. Bila batang pohon atau batu tersebut dirasakan kuat, kita bisa mulai memanjat perlahan.
Bermalam
Setelah tenda berdiri kokoh dan kuat, ganti semua pakain basah dengan pakaian kering. Sekarang silahkan masak memasak, kemudian tidur nyenyak, memulihkan tenaga untuk pendakian keesokan harinya.
(selesai)
Seringkali kita bingung saat akan mengadakan pendakian gunung. Perbekalan dan peralatan apa saja sih yang mesti kita bawa? Pada prinsipnya, semakin lengkap perbekalan dan peralatan yang kita bawa dalam ransel semakin baik. Artinya kita akan merasa nyaman dan aman selama mendaki gunung. Tidak akan kelaparan karena kekurangan makanan dan minuman, tidak akan kedinginan saat malam hari, dan di dalam tenda kita dapat tidur dengan nyenyak karena terhindar dari hujan lebat atau udara dingin yang menusuk tulang.
Perbekalan
Untuk mempermudah menyusun perlengkapan yang harus dibawa, kita bisa urutkan dari atas kepala seperti topi rimba atau balaklava untuk menghangatkan kepala, syal untuk menahan dingin pada bagian leher, untuk bagian badan kita bawa kaos, sweeter, raincoat / jaket, kaos tangan dan jam, sedangkan bagian pinggul ke bawah, celana panjang / pendek, celana dalam dan bagian kaki kaos kaki, sepatu dan sandal.
Jangan lupa juga bawa tenda untuk berteduh dari panas atau hujan dan agar kita dapat beristirahat dengan tenang. Agar kita bisa tidur dengan hangat kita bisa gunakan sleeping bag, jangan bawa selimut tebal yang hanya akan memberatkan dan menghabiskan ruang di ransel. Jangan lupa juga bawa matras, agar sleeping bag tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang dingin.
Jangan lupa juga bawa tenda untuk berteduh dari panas atau hujan dan agar kita dapat beristirahat dengan tenang. Agar kita bisa tidur dengan hangat kita bisa gunakan sleeping bag, jangan bawa selimut tebal yang hanya akan memberatkan dan menghabiskan ruang di ransel. Jangan lupa juga bawa matras, agar sleeping bag tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang dingin.
Karena di hutan atau gunung sudah pasti tidak ada rumah makan atau warung baso, maka segala kebutuhan makan dan minum harus kita bawa sendiri. Kalau perjalanan pendek kita tidak perlu bawa alat masak seperti kompor. Namun kalau perjalanan panjang 2-3 hari atau lebih, alangkah baiknya kalau kita bawa alat masak, agar kita bisa memasak dan meramu makanan sesuai selera kita.
Perlengkapan lain yang wajib kita bawa adalah alat komunikasi seperti walkie talkie, hp gsm atau hp satellite, kemudian bawa GPS dan peta. Alat ini berguna bila terjadi keadaan darurat, maka kita tetap bisa berhubungan dengan orang lain, menginformasikan kondisi dan keberadaan kita.
Namun, banyaknya barang yang kita bawa dalam ransel mengakibatkan konsekuensi lain, ransel menjadi berat dan akan membebani pendakian kita. Jadi bawalah ransel dan isinya sesuai kemampuan kita. Karena ransel yang berat tidak hanya akan membebani kita, namun juga membuat gerak kita lambat dan tenaga cepat terkuras. Akibatnya kita akan lemas, banyak keluar keringat dan bisa mengakibatkan dehidrasi. Bagilah barang bawaan dengan rekan seperjalanan, jika kita bawa tenda, biar teman lain bawa alat masak.
Packing
Kita bisa menyeleksi ulang barang bawaan kita, meninggalkan atau mengurangi jumlah barang yang dirasa tidak penting seperti mengurangi pakaian cadangan, karena kita tidak akan sering berganti pakaian di gunung. Pakaian cadangan biasanya di gunakan bila pakaian kita basah. Jadi kalau hanya mendaki 2-3 hari, bawalah satu set pakaian cadangan yang terdiri, satu kaos, satu celana panjang/pendek, dua celana dalam. Jangan terlalu banyak membawa makanan dan minuman kaleng. Bawalah makanan yang dibungkus dalam kemasan plastik atau kertas.
Taruh pelengkapan tidur kita, seperti sleeping bag, matras di bagian bawah ransel, karena peralatan tersebut paling akhir kita pakai. Kemudian taruh di atasnya peralatan masak, bahan makanan, dan yang paling atas adalah minuman dan makanan kecil agar mudah kita raih dan makan. Kemudian letakan di bagian atas ransel raincoat agar ketika hujan mudah kita kenakan. Dan juga sweater dan satu potong pakaian kering. Ketika kita istirahat untuk makan siang, kita bisa mengganti pakaian basah dengan pakain kering, kemudian kita pake sweater agar badan kita tetap hangat.
Hati-hati dengan barang bawaan berupa elektronik seperti jam, camera digital, camcorder, hp, walkman, radio, cd player dan lain dari hujan. Masukan dalam plastik kedap air semua peralatan ini, kalau pelican brief case terlalu mahal, kita bisa memakai box lock and lock yang murahan namun kedap udara apalagi air.
Bila kita tidak ingin kehilangan momen selama pendakian, gantung camera digital atau camcorder di bahu kita, atau di tempat yang mudah dijangkau, namun jangan lupa siapkan plastik untuk jaga-jaga kalau hujan turun.
Perjalanan
Ketika mendaki gunung pakailah sepatu. Lebih bagus lagi kalau sepatu khusus untuk mendaki gunung atau hiking, yang didisain melindungi kaki maksimal dengan telapak atau sol yang mampu menapak lebih baik di tanah. Sepatu juga melindungi kaki dari cedera karena terkilir atau dari benda tajam. Memakai sandal gunung atau sandal jepit sangat beresiko, kaki tidak terlindung dari batu dan kayu tajam, licin dan tidak nyaman di telapak kaki. Sayangilah kakimu, karena dengan kaki yang sehat, kuat dan tidak sakitlah kita bisa menikmati gunung dengan segala keindahannya.
Kegiatan mendaki gunung adalah aktifitas yang berat, butuh tenaga dan konsentrasi tinggi untuk mengikuti kegiatan ini. Persiapkan badan dengan baik bila mau mendaki gunung. Berolah-raga beberapa minggu sebelum pendakian adalah persiapan terbaik, agar otot terlatih dan daya tahan badan kuat untuk menghadapi deraan fisik yang melelahkan.

Keluarga Besar
KUMAN AIDS
Turut Berduka dan Berempati atas
Berbagai Bencana yang Menimpa
Bangsa Kita
Semoga Kita Semua Tabah
Menghadapinya
Setelah banjir bandang melanda Wasior,lalu gempa diikuti tsunami menyusul di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Tak lama berselang Jakarta diguyur hujan deras yang diikuti banjir di berbagai titik yang mengakibatkan kesemrawutan lalulintas, dan terakhir Gunung Merapi meletus. Berbagai peristiwa ini membuat kita semua patut prihatin. Keluarga besar KUMAN AIDS juga sangat prihatin dan turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas banyaknya korban di berbagai bencana tersebut.
Selain menelan banyak korban, bencana juga mengubah kehidupan banyak orang. Harta benda hilang sampai rumah hancur tak berbekas sehingga terpaksa harus mengungsi, sekolah anak-anak terganggu dan penyakit bisa bermunculan. Kehidupan di masa sulit akan semakin sulit bagi sebagian besar masyarakat. Jumlah 31 juta rakyat di bawah garis kemiskinan pun bisa kian bertambah dengan terjadinya berbagai bencana.
Di balik itu, banyak hal yang perlu direnungkan oleh bangsa ini. Tragedi yang terus-menerus menimpa mungkin bukan lagi peringatan, melainkan azab dari pencipta alam semesta atas keserakahan para penguasa. Untuk itu mari kita instropeksi diri kita masing-masing dan segera kembali ke jalan-Nya.
Apa itu Wanadri..?
Wanadri adalah Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, merupakan organisasi tertua yang bergerak dalam kegiatan alam bebas di Indonesia. Wanadri mempunyai sekretariat di kota Bandung. Wanadri berdiri tahun 1964, tahun yang sama dengan tahun lahirnya Mapala UI.
Nama Wanadri sendiri berasal dari bahasa Sansekerta. Wana berarti hutan dan adri itu gunung. Wanadri berarti gunung di tengah-tengah hutan. Tujuan Wanadri membentuk manusia yang mandiri, ulet, tabah. Mendidik anggotanya menjadi manuasia Pancasilais sejati, percaya pada kekuatan sendiri.
Sifat keanggotaan dalam Wanadri ada dua, yaitu
(1) Anggota biasa, yang telah mengikuti pendidikan dasar dan program lain hingga punya nomor pokok.
(2) Anggota luar biasa, yang terjadi dari (a) Anggota kehormatan, (b) Anggota pelindung, (c) Tenaga ahli, dan (d) Donatur.
(1) Anggota biasa, yang telah mengikuti pendidikan dasar dan program lain hingga punya nomor pokok.
(2) Anggota luar biasa, yang terjadi dari (a) Anggota kehormatan, (b) Anggota pelindung, (c) Tenaga ahli, dan (d) Donatur.
Syarat Menjadi Anggota
Syarat bagi seseorang untuk menjadi anggota Wanadri, Pertama harus mengikuti Pendidikan Dasar Wanadri (PDW) selama 1 bulan, kemudian memasuki masa anggota muda (AMW) selama kurang lebih satu tahun. Selama masa ini, AMW menjalankan kewajiban-kewajiban tertentu, yang termasuk dalam program Mamud seperti mentoring, perjalanan-perjalan kecil, mengikuti sekolah-sekolah lanjutan tebing, ORAD, SAR, Jurnalistik, disamping magang pada Dewan Pengurus serta Badan Otonom yang lain.
Berminat Jadi Anggota...???
Jika kawan-kawan berminat menjadi anggota Wanadri, bersiap-siaplah karena Wanadri tahun ini akan mengadakan Pendidikan Dasar Wanadri. Apa yang harus dipersiapkan? Secara umum berlatih olah raga seperti berlari, berenang, membawa beban (ransel saja sudah kl 25 kg). Ada juga psikotest dan tes kesehatan. Lama pendidikan kurang lebih satu bulan. Dan yang harus dipahami, alam yang mendidik kita.
salam "KuMan AIDS'.
-->
Label:
Artikel,
Dasar,
Gunung,
Pendaki,
Pendidikan,
Penempuh,
Perhimpunan,
Rimba,
Wanadri
2
komentar
|
Lokasi : Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat
Lewat Jalur Pemancar, Garut
Tanggal : 23-25 Oktober 2009
Setelah rehat panjang karena libur bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, senang rasanya dapat kembali bercengkerama dengan alam lagi. Kali ini yang menjadi target sasaran kami adalah Gunung Cikuray di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung Cikuray..?? Begitulah pertanyaan sebagian kawan-kawan ketika nama Gunung Cikuray disebut. Walaupun gunung ini termasuk gunung tertinggi ke empat di Jawa Barat sesudah Gunung Ciremai, Pangrango dan Gede, namun Gunung Cikuray ini kalah tenar dibanding dengan gunung di sekitarnya semisal Gunung Papandayan. Lantas mengapa kami lebih memilih Gunung Cikuray..??
Yang utama, belum ada seorang pun dari kami yang pernah ke sana. Alasan yang lebih menggiurkan bagi kami adalah gambaran jalur Cikuray yang cukup menantang dan belum banyak dilalui pendaki.
Jumat, 23 Oktober 2009
Setelah semua berkumpul, tepat pukul 21.00 WIB akhirnya kami berangkat menuju TKP, terlambat satu jam dari rencana keberangkatan yang semula pukul 20.00 WIB. Sebagian besar peserta nampaknya memanfaatkan benar waktu dalam perjalanan ini untuk beristirahat, hanya satu dua orang saja yang bercakap-cakap, itupun terpaksa karena tidak bisa tidur sebab suhu AC di bis ini dingin bangets.
Sabtu, 24 Oktober 2009
Kurang lebih pukul 01.30 WIB, rombongan tiba di Dayeuh Manggung, sebuah daerah perkebunan yang berada di kaki gunung Cikuray. Sambil menunggu rombongan dari Bandung, waktu yang ada kami gunakan untuk beristirahat di Rumah Makan Sari Muna / Masjid Hidayatul Muna. Sembari menunggu, kawan-kawan ada yang tidur, ada yang pura-pura tidur, ada yang ngobrol di Masjid, ada yang minum kopi di halaman Rumah Makan, ada yang ngelamun, ada yang ngupil (eh ada nggak ya…??)
Setelah rombongan dari Bandung datang, langsung berkemas untuk cabut ke Pos Pendaftaran di Pos PT Perkebunan Nusantara VII. Tidak seperti di gunung lainnya, perijinan mendaki cukup disampaikan lisan kepada Petugas Satpam perkebunan teh. Hal ini untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu terjadi selama pendakian. Di sana memang belum ada pos pendakian yang dibuat resmi. Ini menjadi salah satu tanda bahwa gunung ini masih jarang dikunjungi pendaki.
Untuk mencapai Pos Pemancar bisa menggunakan kendaraan (biasanya bak terbuka atau ojek) yang dapat meringkas waktu perjalanan empat jam menjadi satu sampai dua jam. Biasanya mobil dari luar hanya boleh sampai di sini, tapi karena sudah koordinasi dan negoisasi sebelumnya diputuskan bis tetap naik sampai pemancar, namun karena jalan tidak memungkinkan, di tengah jalan kami berganti kendaraan memakai mobil Innova untuk sambung lagi pakai bak terbuka di tengah perjalanan. Disepakati Aku, Santo, Linggar dan Soni jalan duluan sambil membawa sebagian barang dan logistik. Setelah menempuh waktu lebih dari setengah jam, tepat pukul 02.45 WIB kami bertemu mobil bak terbuka dimaksud.
Jumat, 23 Oktober 2009
Setelah semua berkumpul, tepat pukul 21.00 WIB akhirnya kami berangkat menuju TKP, terlambat satu jam dari rencana keberangkatan yang semula pukul 20.00 WIB. Sebagian besar peserta nampaknya memanfaatkan benar waktu dalam perjalanan ini untuk beristirahat, hanya satu dua orang saja yang bercakap-cakap, itupun terpaksa karena tidak bisa tidur sebab suhu AC di bis ini dingin bangets.
Sabtu, 24 Oktober 2009
Kurang lebih pukul 01.30 WIB, rombongan tiba di Dayeuh Manggung, sebuah daerah perkebunan yang berada di kaki gunung Cikuray. Sambil menunggu rombongan dari Bandung, waktu yang ada kami gunakan untuk beristirahat di Rumah Makan Sari Muna / Masjid Hidayatul Muna. Sembari menunggu, kawan-kawan ada yang tidur, ada yang pura-pura tidur, ada yang ngobrol di Masjid, ada yang minum kopi di halaman Rumah Makan, ada yang ngelamun, ada yang ngupil (eh ada nggak ya…??)
Setelah rombongan dari Bandung datang, langsung berkemas untuk cabut ke Pos Pendaftaran di Pos PT Perkebunan Nusantara VII. Tidak seperti di gunung lainnya, perijinan mendaki cukup disampaikan lisan kepada Petugas Satpam perkebunan teh. Hal ini untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu terjadi selama pendakian. Di sana memang belum ada pos pendakian yang dibuat resmi. Ini menjadi salah satu tanda bahwa gunung ini masih jarang dikunjungi pendaki.
Untuk mencapai Pos Pemancar bisa menggunakan kendaraan (biasanya bak terbuka atau ojek) yang dapat meringkas waktu perjalanan empat jam menjadi satu sampai dua jam. Biasanya mobil dari luar hanya boleh sampai di sini, tapi karena sudah koordinasi dan negoisasi sebelumnya diputuskan bis tetap naik sampai pemancar, namun karena jalan tidak memungkinkan, di tengah jalan kami berganti kendaraan memakai mobil Innova untuk sambung lagi pakai bak terbuka di tengah perjalanan. Disepakati Aku, Santo, Linggar dan Soni jalan duluan sambil membawa sebagian barang dan logistik. Setelah menempuh waktu lebih dari setengah jam, tepat pukul 02.45 WIB kami bertemu mobil bak terbuka dimaksud.
Tapi karena bahan bakarnya kosong, terpaksa mobil turun dulu dan kami diminta menunggu di sana. Rencana berubah, karena mobil bak terbuka turun dan cukup untuk mengangkut semua personel, mobil Innova diminta turun juga. Karena mobil dalam keadaan kosong, maka sering slip. Agar tidak slip Santo, Linggar dan Sony diminta naik sebagai pemberat sampai jalan agak bagus (kurang lebih 0,5-1 km). Waduh bisa dibayangkan, aku ditinggal sendirian di suatu tempat yang gelap tanpa cahaya sedikitpun. Hanya suara gemercik air yang saat itu aku sendiri tak tahu di sebelah mana aliran airnya. Keadaan sekitar? Aku sendiri belum tahu bagaimana keadannya. Yang aku tahu dari siluet langit, sebelah kanan, kiri dan belakangku adalah bukit. Setelah sendirian di kegelapan dari pukul 03.30 WIB, akhirnya mulai tampak fajar di ufuk timur, seiring kemunculan Santo, Linggar dan Sony.
Pukul 05.30 WIB rombongan dari bawah muncul juga, langsung kami bergabung menuju Pos Pemancar. Kami naik mobil bak terbuka diiring jerit histeris karena jalannya kecil dan rusak ditambah beberapa tikungan tajam, sementara sebelah kanan dan kiri jurang yang dalam siap menelan. Setelah satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Pos Pemancar. Istirahat sebentar sambil reload kekuatan dan sarapan pagi langsung siap mendaki.
Dalam pembagian regu, selalu saja aku dapat regu pembuka jalan yaitu regu pertama (padahal aku selalu diomelin kalo nyampe duluan). Kali ini aku bareng ama Santo, Mbak Andar dan Mbak Jati. Karena ini adalah perjalanan pertama bagi Mbak Andar dan Mbak Jati maka perjalanan sengaja dibuat sesantai mungkin sesuai kemampuan mereka. Tapi tetap saja kami melangkah jauh di depan yang lain.
Selepas perkebunan teh dan penduduk, regu satu mulai pecah. Aku bereng Mbak Jati di depan, Santo dan Mbak Andar di belakang. Di jalur itu kami melewati akar-akar pohon yang besar. Aku melihat pohon tumbang di sepanjang jalur, kemungkinan roboh karena diterjang angin kencang, kemudian tanahnya sedikit ikut longsor. Bulan Oktober memang berada dalam masa musim hujan. Maka tak heran jika hujan terus turun dan sesekali disertai angin yang cukup hebat.
Di tengah perjalanan, kabut mulai turun diiringi gerimis kecil. Celaka… raincoat-ku ada di Santo. Aku nggak bilang tentang raincoat ini ke Mbak Jati, karena aku lihat semangatnya terus menyala dan tak ingin mengganggunya. Namun aku berusaha memanggil Santo namun tak ada jawaban (yang menandakan jarak kami terlalu jauh). Tapi untung hujan tak jadi turun.
Selang setengah jam berikutnya, saat kami sedang berbincang di jalan dengan rombongan dari Bekasi gerimis kembali datang, kali ini agak deras namun sebentar. Kali ini aku berterus terang tentang raincoat ini. Aku usul agar Mbak Jati ikut sebentar dengan rombongan Bekasi, sementara aku turun untuk mengambil raincoat dan segera menyusul. Namun Mbak Jati tak bersedia dengan alasan tak akan mampu mengimbangi kecepatan rombongan dari Bekasi (padahal rombongan Bekasi ini berangkat lebih awal dan dapat disusul kami). Melihat kondisi seperti ini, akhirnya aku pasrah jika seandainya harus kehujanan.
Dan ternyata benar, hujan akhirnya turun juga dengan derasnya. Aku terpaksa hujan-hujanan di atas ketinggian 2550-an mdpl. Setelah diskusi dengan Mbak Jati akhirnya kami putuskan untuk terus jalan menuju puncak dengan asumsi pasti ada tenda di pos bayangan karena rombongan yang berangkat jumat malam belum kembali.
Tapi karena satu lain hal, diputuskan untuk gabung dengan rombongan bekasi dan membuat tenda untuk istirahat sambil menghangatkan badan. Setelah satu jam menunggu, Santo dan Mbak Andar muncul juga. Segera aku ganti baju dan melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada rombongan Bekasi.
Seiring dengan suara adzan ashar, kami tiba di Puncak Bayangan, itulah puncak pertama yang kami temui. Sedikit lelah bercampur senang, kami beristirahat di sebidang tanah lapang yang dikelilingi pepohonan tinggi. Rupanya kami tidak ingin repot dengan pilihan tempat untuk beristirahat. Tanpa tunggu perintah kami segera mendirikan tenda sambil menunggu rombongan yang lain tiba. Setelah tenda bediri segera ambil posisi tidur sampai pagi untuk naik lagi.
Jumat, 25 Oktober 2009
Pagi pukul lima, kami bangun. Sambil sarapan dan minum kopi, kami berkemas. Setelah berkemas, kami kembali meneruskan perjalanan hingga melewati jalur punggung bukit. Untuk mencapainya, kami harus melewati jalur yang sulit. Melewatinya pun harus hati-hati dan dibutuhkan kerjasama. Satu per satu dari kami melewati rintangan itu. Menurutku, kesabaran, kegigihan, ketrampilan, dan stamina yang baik sangat perlu dimiliki oleh setiap pendaki.
Kali ini aku naik di posisi paling belakang bareng Santo dan Mbak Mida. Di tengah jalan Mbak Mida sakit perut, mungkin karena belum sarapan. Untung dalam tasku ada dua kotak susu dan satu botol air mineral, langsung aku suruh istirahat dan minum susu dulu sampai rasa sakitnya hilang.
Tak berapa lama, akhirnya kami temui dataran luas yang ditumbuhi alang-alang dengan satu bangunan mirip gardu di tengahnya. Itulah Puncak Gunung Cikuray. View dari Puncak Cikuray sangat indah … terlihat pemandangan desa di kaki gunung, pemandangan gunung papandayan dan pegunungan lain, gumpalan awan seperti kapas teronggok disana sini…… kerennn buanget…. Benar-benar takjub melihat indahnya ciptaan Tuhan.
|
![]() |
Namun pagi ini, angin terasa cukup bertenaga menerpa tubuh dan wajah kami, kami segera menujun ke bangunan pos, namun tak cukup membantu karena di dalam pun angin bertiup kencang. Ingin rasanya lebih lama di puncak, namun kami harus segera kembali ke Pos Bayangan dan kembali ke bawah, kalau tidak ingin kehujanan di tengah jalan lagi (maklum pakaian yang kering tinggal yang ada di badan saja, kalau sampai basah lagi, pulang nanti pakai apa…??)
|
Tak sampai satu jam, kami sudah tiba kembali di Pos Bayangan. Langsung sarapan dan packing ulang untuk perjalanan pulang. Pukul 10.00 WIB kami berkemas untuk membawa semua peralatan. Hanya empat jam saja waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan turun.
Setelah melewati kawasan hutan yang lebat, kami memasuki kawasan perkebunan. Di jalur itu kami temui ladang, kebun dan alang-alang. Di kanan dan kiri jalur ditanami rumput untuk pakan ternak sedang di bawah tampak kebun teh yang terhampar hijau. Dari sini Pos Pemancar sudah terlihat, artinya sebentar lagi kita akan sampai.
Setelah melewati perkebunan teh, akhirnya kami sampai juga di Pos Pemancar tepat pukul 14.00 WIB. Sambil menunggu kawan-kawan yang lain, kami coba luruskan kaki yang terasa lelah ini.
Setelah semua turun, langsung cabut ke bawah menggunakan mobil bak terbuka lagi, waduh…rasanya seperti sedang ikut rodeo, itu lho naik banteng ngamuk. Sempat khawatir juga karena di tengah jalan hujan kembali turun. Ditemani gerimis akhirnya perjalanan berakhir di Rumah Makan Sari Muna. Setelah mandi, shalat (karena nggak ada sarung terpaksa pakai bawahan mukena) dan makan, tepat pukul 16.30 WIB kami kembali ke Cirebon.
Diselingi istirahat sebentar untuk makan (lagi) di Sumedang, akhirnya tepat pikul 22.30 WIB kami tiba di Cirebon……
Data koordinat :
Pos Pemancar : 07º 18′ 27″ – 107º 52′ 92″ – 1460mdpl
Pos 1 : 07º 19′ 01″ – 107º 52′ 37″ – 2066mdpl
Pos 2 : 07º 19′ 17″ – 107º 52′ 26″ – 2244mdpl
Pos 3 : 07º 19′ 32″ – 107º 51′ 98″ – 2539mdpl
Puncak Cikurai : 07º 19′ 25″ – 107º 51′ 40″ – 2813mdpl
-->
Label:
Adventure,
Cikuray,
Climbing,
Dayeuhmanggung,
Garut,
Gunung,
Jejak,
Kebun Teh,
Pemancar,
Perjalanan,
Petualang,
Puncak
0
komentar
|








