Kadang kita meremehkan sarapan pagi, karena malas atau ingin cepat-cepat jalan, kadang kita memasak makanan pagi seadanya, cukup mie instant atau makan beberapa potong biskuit saja. Justru di pagil hariah kita harus makan besar, nasi dengan segala lauk pauknya jejalkan ke perut. Karena pagi disaat kita mulai melakukan pendakian kita butuh tenaga atau energi yang semuanya diperoleh dari karbohidrat (nasi, havermut, kentang, mie). Kalau makan seadanya, maka badan akan lemas dan kita tidak cukup kuat untuk mendaki.
Bila malam tiba, maka waktu memasak lebih leluasa, kita bisa berkreasi untuk memasak makan malam. Namun utamakan memasak makanan yang mengandung protein seperti ikan, ayam dan telur. Protein ini dibutuhkan untuk mengganti sel-sel yang rusak akibat aktifitas pendakian seharian.
Malam hari kita tidak butuh tenaga besar, karena selesai masak kita akan tidur, kecuali kalau memang mau ronda di gunung. Karena tidak butuh tenaga, maka kurangi makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, kentang dan lain-lainya. Karena tubuh tak bergerak, karbohidrat yang tidak terbakar sehingga akan menjadi lemak. Kecuali memang kita memang punya perut melayu, belum makan, kalau tidak makan nasi, maka silahkan saja makan nasi sampai gembul.
Melangkah
Berjalanlah perlahan dengan langkah pendek ketika menyusuri trek yang menanjak. Lebih baik jalan perlahan, sedikit istirahat dengan jarak tempuh yang panjang/jauh, daripada jalan cepat dengan jarak tempuh pendek dan berulangkali beristirahat. Berjalan perlahan, berguna untuk membiasakan otot dan jantung bekerja dengan stabil dan tidak mengagetkan. Kalau kita masih bisa ngobrol dengan temen seperjalanan kita, berarti kita berjalan dengan baik karena nafas tidak memburu. Berjalan cepat, bisa mengakibatkan otot jantung kaget dan otot kaki atau perut bisa kram.
Pilihlah jalan yang datar, lebih baik jalan memutar sedikit daripada memilih trek terjal mendaki. Selain lebih aman, juga tidak membuat kaget dan lelah otot kaki. Pilih pijakan kaki yang tidak tinggi. Memilih pijakan tinggi apalagi dengan menggunakan tangan untuk menarik badan kita memang akan cepat mencapai ketinggian, namun percayalah cara ini akan membuat tenaga anda cepat terkuras dan cepat lelah. Tidak masalah kalau anda mempunyai fisik prima dan sering berlatih, tenaga akan cepat pulih. Namun bagi yang tidak mempunyai fisik prima, akan lemas, tidak bertenaga, lama pulih dan bisa jadi pusing, mata berkunang-kunang dan kaki bisa kram.Cermat memilih pijakan di tanah, hati-hati dengan akar yang keluar dari tanah atau menyilang di tengah trek, biasanya akar licin membuat kita tergelincir ketika di injak. Akar pohon, batu berlumut atau yang labil dan mudah bergeser lebih baik dihindari, tidak usah diinjak. Perhatikan dan konsentrasi penuh ketika meniti batang pohon, gesek-gesek dahulu telapak sepatu ke batu atau kayu untuk melepaskan tanah dan lumpur yang menempel, agar telapak tidak licin. Pastikan kayu yang akan kita injak atau kita raih kuat dan tidak rapuh atau mudah patah.
Kencangkan ikatan ransel di punggung, jangan sampai ransel bergoyang kekiri atau ke kanan yang hanya akan mengurangi keseimbangan ketika kita melangkah meniti sebatang kayu. Bebaskan kedua tangan dari barang apapun, kedua tangan nantinya akan kita gunakan untuk keseimbangan.
Pilih pijakan dengan benar di batang pohon, pastikan kita tidak menginjak bagian berlumut. Melangkahlah dengan tenang, tidak usah tergesa, konsentrasi penuh, perlahan namun pasti kita bergerak maju selangkah demi selangkah.
Ketika memanjat dinding tanah yang terjal, pilih tumpuan dengan benar, kalau menginjak batu pastikan batu tersebut kuat dan tidak rapuh, kalau tidak ada batu, kita tendang-tendang tanah hingga berlobang sebagai pijakan.
Untuk pegangan hati-hati bila menggapai batang pohon, pastikan kuat dan tidak mudah tercabut akarnya. Jangan pegang tumbuhan berduri dan batang pohon mati, karena sebesar apapun batang pohon mati, kemungkinan besar rapuh dan mudah patah. Bila batang pohon atau batu tersebut dirasakan kuat, kita bisa mulai memanjat perlahan.
Bermalam
Setelah tenda berdiri kokoh dan kuat, ganti semua pakain basah dengan pakaian kering. Sekarang silahkan masak memasak, kemudian tidur nyenyak, memulihkan tenaga untuk pendakian keesokan harinya.
(selesai)
Jangan lupa juga bawa tenda untuk berteduh dari panas atau hujan dan agar kita dapat beristirahat dengan tenang. Agar kita bisa tidur dengan hangat kita bisa gunakan sleeping bag, jangan bawa selimut tebal yang hanya akan memberatkan dan menghabiskan ruang di ransel. Jangan lupa juga bawa matras, agar sleeping bag tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang dingin.
Karena di hutan atau gunung sudah pasti tidak ada rumah makan atau warung baso, maka segala kebutuhan makan dan minum harus kita bawa sendiri. Kalau perjalanan pendek kita tidak perlu bawa alat masak seperti kompor. Namun kalau perjalanan panjang 2-3 hari atau lebih, alangkah baiknya kalau kita bawa alat masak, agar kita bisa memasak dan meramu makanan sesuai selera kita.
Perlengkapan lain yang wajib kita bawa adalah alat komunikasi seperti walkie talkie, hp gsm atau hp satellite, kemudian bawa GPS dan peta. Alat ini berguna bila terjadi keadaan darurat, maka kita tetap bisa berhubungan dengan orang lain, menginformasikan kondisi dan keberadaan kita.
Namun, banyaknya barang yang kita bawa dalam ransel mengakibatkan konsekuensi lain, ransel menjadi berat dan akan membebani pendakian kita. Jadi bawalah ransel dan isinya sesuai kemampuan kita. Karena ransel yang berat tidak hanya akan membebani kita, namun juga membuat gerak kita lambat dan tenaga cepat terkuras. Akibatnya kita akan lemas, banyak keluar keringat dan bisa mengakibatkan dehidrasi. Bagilah barang bawaan dengan rekan seperjalanan, jika kita bawa tenda, biar teman lain bawa alat masak.
Kita bisa menyeleksi ulang barang bawaan kita, meninggalkan atau mengurangi jumlah barang yang dirasa tidak penting seperti mengurangi pakaian cadangan, karena kita tidak akan sering berganti pakaian di gunung. Pakaian cadangan biasanya di gunakan bila pakaian kita basah. Jadi kalau hanya mendaki 2-3 hari, bawalah satu set pakaian cadangan yang terdiri, satu kaos, satu celana panjang/pendek, dua celana dalam. Jangan terlalu banyak membawa makanan dan minuman kaleng. Bawalah makanan yang dibungkus dalam kemasan plastik atau kertas.
Taruh pelengkapan tidur kita, seperti sleeping bag, matras di bagian bawah ransel, karena peralatan tersebut paling akhir kita pakai. Kemudian taruh di atasnya peralatan masak, bahan makanan, dan yang paling atas adalah minuman dan makanan kecil agar mudah kita raih dan makan. Kemudian letakan di bagian atas ransel raincoat agar ketika hujan mudah kita kenakan. Dan juga sweater dan satu potong pakaian kering. Ketika kita istirahat untuk makan siang, kita bisa mengganti pakaian basah dengan pakain kering, kemudian kita pake sweater agar badan kita tetap hangat.
Hati-hati dengan barang bawaan berupa elektronik seperti jam, camera digital, camcorder, hp, walkman, radio, cd player dan lain dari hujan. Masukan dalam plastik kedap air semua peralatan ini, kalau pelican brief case terlalu mahal, kita bisa memakai box lock and lock yang murahan namun kedap udara apalagi air.
Bila kita tidak ingin kehilangan momen selama pendakian, gantung camera digital atau camcorder di bahu kita, atau di tempat yang mudah dijangkau, namun jangan lupa siapkan plastik untuk jaga-jaga kalau hujan turun.
Perjalanan
Kegiatan mendaki gunung adalah aktifitas yang berat, butuh tenaga dan konsentrasi tinggi untuk mengikuti kegiatan ini. Persiapkan badan dengan baik bila mau mendaki gunung. Berolah-raga beberapa minggu sebelum pendakian adalah persiapan terbaik, agar otot terlatih dan daya tahan badan kuat untuk menghadapi deraan fisik yang melelahkan.

Lokasi : Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat
Lewat Jalur Linggarjati, Kuningan
Tanggal : 16-18 Agustus 1996
Senja sudah berlalu saat kami tiba di Pos Lapor Pendakian Gunung Ciremai. Setelah mengurus perijinan di warung Pak Amat yang dijadikan Pos Lapor bagi petugas Jagawana di Linggarjati, akhirnya Tribagyo, Dedi Sumaedi, Taten Herman, Hedi Setiadi dan Yoyok memulai perjalanan menuju puncak Ciremai. Seperti sudah diduga sebelumnya, perjalanan pada malam 17 Agustus seperti ini pasti ramai.
Gelap menemani kami saat tiba di Pos Cibunar. Karena persediaan air kami sudah banyak dan untuk menghemat tenaga, diputuskan untuk tidak mampir di mata air dan langsung tancap menuju Pos Leuweung Datar. Nafas kami terdengar terengah-engah setelah melalui jalan yang terus mendaki ini. Yoyok sempat kagum juga saat mendengar Dedi hanya berbekal 2 (dua) botol Krating Daeng.
Perjalanan terus kami lalui sambil sesekali istirahat untuk mengatur nafas. Tribagyo di tengah perjalanan sempat menitipkan logistik makanan pada Yoyok. Setelah melewati Pos Condong Amis, perjalanan cukup berat terdapat di Pos Kuburan Kuda. Perjalanan akan melalui tebing yang terjal dengan sedikit pegangan. Jika tak hati-hati, maka kita akan tergelincir ke bawah sejauh puluhan meter. Selepas dari Pos Kuburan Kuda kami beristirahat. Saat beristirahat datang rombongan lain dan ikut istirahat serta berbincang-bincang bersama rombongan kami, dan ternyata mereka adalah rombongan dari SMAN 6 Cirebon. Tak lama kemudian mereka melanjutkan perjalanan, meninggalkan kami.
Cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan, tapi ada yang kurang, anggota rombongan kami berkurang satu. Ternyata Tribagyo terbawa rombongan SMAN 6 tadi, dan baru sadar setelah jauh dan memutuskan tetap berjalan dengan rombongan mereka. Perjalanan selanjutnya kami lalui dengan santai sekali. Bahkan kami sempat memutuskan untuk bermalam dahulu sebelum melanjutkan perjalanan esok hari.
Pagi hari, rasanya malas untuk melanjutkan perjalanan. Tapi kami harus melanjutkan perjalanan. Pos Batu Lingga dan Sangga Buana kami lalui. Akhirnya kami sampai di Pos Pengasinan, pos terakhir menjelang puncak. Di pos ini kami berjumpa Tribagyo yang sudah dari puncak dan hendak kembali. Setelah diputuskan Tribagyo langsung turun dan menunggu di Pos Cibunar. Sementara kami melanjutkan ke Puncak.
Setelah susah payah melewati jalan terjal menuju puncak, akhirnya sekitar pukul 11.30 WIB kami berada di Puncak. Ini merupakan untuk pertama kalinya kami tiba di puncak tengah hari. Wuiihhhh...rasanya panas sekali, karena memang tidak ada tempat berlindung dari sengatan matahari. Tak mau kelamaan kepanasan, kami pun turun kembali dan memutuskan untuk beristirahat di Pos Pengasinan saja.
Cukup mengumpulkan tenaga kami turun. Pos demi pos kami lalui hingga tak terasa selepas Pos Tanjakan Bapatere rombongan terbagi dua. Yoyok dan Taten di depan, sedang Hedi dan Dedi di belakang. Pukul 17.13 WIB, Taten dan Yoyok tiba di Cibunar dan segera mencari Tribagyo. Setelah bertemu Tribagyo dan membersihkan diri di mata air, kami pun menunggu Dedi dan Hedi.
Karena hari sudah gelap, maka diputuskan untuk bermalam di Cibunar. Setelah tenda berdiri, segera saja kami merebahkan diri untuk beristirahat. Pagi harinya kami turun ke Pos Lapor dan tak lupa mencari sarapan. Setelah semuanya beres kami pun pulang....














































