29
Mar 2011
25
Mar 2011
14
Mar 2011
Makan
Kadang kita meremehkan sarapan pagi, karena malas atau ingin cepat-cepat jalan, kadang kita memasak makanan pagi seadanya, cukup mie instant atau makan beberapa potong biskuit saja. Justru di pagil hariah kita harus makan besar, nasi dengan segala lauk pauknya jejalkan ke perut. Karena pagi disaat kita mulai melakukan pendakian kita butuh tenaga atau energi yang semuanya diperoleh dari karbohidrat (nasi, havermut, kentang, mie). Kalau makan seadanya, maka badan akan lemas dan kita tidak cukup kuat untuk mendaki.
Makan besar kita buat lagi ketika makan siang, untuk menggantikan energi yang habis terbakar selama pendakian setengah hari. Selama pendakian, daripada ngelamun jorok lebih baik ngemil. Cemilan bisa berupa permen, biskuit, pisang, dodol, gula merah, kacang-kacangan, coklat dan sebagainya. Makanan kecil ini mampu menambah energi dan semangat.
Bila malam tiba, maka waktu memasak lebih leluasa, kita bisa berkreasi untuk memasak makan malam. Namun utamakan memasak makanan yang mengandung protein seperti ikan, ayam dan telur. Protein ini dibutuhkan untuk mengganti sel-sel yang rusak akibat aktifitas pendakian seharian.
Malam hari kita tidak butuh tenaga besar, karena selesai masak kita akan tidur, kecuali kalau memang mau ronda di gunung. Karena tidak butuh tenaga, maka kurangi makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, kentang dan lain-lainya. Karena tubuh tak bergerak, karbohidrat yang tidak terbakar sehingga akan menjadi lemak. Kecuali memang kita memang punya perut melayu, belum makan, kalau tidak makan nasi, maka silahkan saja makan nasi sampai gembul.
Melangkah
Berjalanlah perlahan dengan langkah pendek ketika menyusuri trek yang menanjak. Lebih baik jalan perlahan, sedikit istirahat dengan jarak tempuh yang panjang/jauh, daripada jalan cepat dengan jarak tempuh pendek dan berulangkali beristirahat. Berjalan perlahan, berguna untuk membiasakan otot dan jantung bekerja dengan stabil dan tidak mengagetkan. Kalau kita masih bisa ngobrol dengan temen seperjalanan kita, berarti kita berjalan dengan baik karena nafas tidak memburu. Berjalan cepat, bisa mengakibatkan otot jantung kaget dan otot kaki atau perut bisa kram.

Cermat memilih pijakan di tanah, hati-hati dengan akar yang keluar dari tanah atau menyilang di tengah trek, biasanya akar licin membuat kita tergelincir ketika di injak. Akar pohon, batu berlumut atau yang labil dan mudah bergeser lebih baik dihindari, tidak usah diinjak. Perhatikan dan konsentrasi penuh ketika meniti batang pohon, gesek-gesek dahulu telapak sepatu ke batu atau kayu untuk melepaskan tanah dan lumpur yang menempel, agar telapak tidak licin. Pastikan kayu yang akan kita injak atau kita raih kuat dan tidak rapuh atau mudah patah.
Kencangkan ikatan ransel di punggung, jangan sampai ransel bergoyang kekiri atau ke kanan yang hanya akan mengurangi keseimbangan ketika kita melangkah meniti sebatang kayu. Bebaskan kedua tangan dari barang apapun, kedua tangan nantinya akan kita gunakan untuk keseimbangan.
Pilih pijakan dengan benar di batang pohon, pastikan kita tidak menginjak bagian berlumut. Melangkahlah dengan tenang, tidak usah tergesa, konsentrasi penuh, perlahan namun pasti kita bergerak maju selangkah demi selangkah.
Ketika memanjat dinding tanah yang terjal, pilih tumpuan dengan benar, kalau menginjak batu pastikan batu tersebut kuat dan tidak rapuh, kalau tidak ada batu, kita tendang-tendang tanah hingga berlobang sebagai pijakan.
Untuk pegangan hati-hati bila menggapai batang pohon, pastikan kuat dan tidak mudah tercabut akarnya. Jangan pegang tumbuhan berduri dan batang pohon mati, karena sebesar apapun batang pohon mati, kemungkinan besar rapuh dan mudah patah. Bila batang pohon atau batu tersebut dirasakan kuat, kita bisa mulai memanjat perlahan.
Bermalam
Setelah tenda berdiri kokoh dan kuat, ganti semua pakain basah dengan pakaian kering. Sekarang silahkan masak memasak, kemudian tidur nyenyak, memulihkan tenaga untuk pendakian keesokan harinya.
(selesai)
11
Mar 2011
Seringkali kita bingung saat akan mengadakan pendakian gunung. Perbekalan dan peralatan apa saja sih yang mesti kita bawa? Pada prinsipnya, semakin lengkap perbekalan dan peralatan yang kita bawa dalam ransel semakin baik. Artinya kita akan merasa nyaman dan aman selama mendaki gunung. Tidak akan kelaparan karena kekurangan makanan dan minuman, tidak akan kedinginan saat malam hari, dan di dalam tenda kita dapat tidur dengan nyenyak karena terhindar dari hujan lebat atau udara dingin yang menusuk tulang.
Perbekalan
Untuk mempermudah menyusun perlengkapan yang harus dibawa, kita bisa urutkan dari atas kepala seperti topi rimba atau balaklava untuk menghangatkan kepala, syal untuk menahan dingin pada bagian leher, untuk bagian badan kita bawa kaos, sweeter, raincoat / jaket, kaos tangan dan jam, sedangkan bagian pinggul ke bawah, celana panjang / pendek, celana dalam dan bagian kaki kaos kaki, sepatu dan sandal.
Jangan lupa juga bawa tenda untuk berteduh dari panas atau hujan dan agar kita dapat beristirahat dengan tenang. Agar kita bisa tidur dengan hangat kita bisa gunakan sleeping bag, jangan bawa selimut tebal yang hanya akan memberatkan dan menghabiskan ruang di ransel. Jangan lupa juga bawa matras, agar sleeping bag tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang dingin.
Jangan lupa juga bawa tenda untuk berteduh dari panas atau hujan dan agar kita dapat beristirahat dengan tenang. Agar kita bisa tidur dengan hangat kita bisa gunakan sleeping bag, jangan bawa selimut tebal yang hanya akan memberatkan dan menghabiskan ruang di ransel. Jangan lupa juga bawa matras, agar sleeping bag tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang dingin.
Karena di hutan atau gunung sudah pasti tidak ada rumah makan atau warung baso, maka segala kebutuhan makan dan minum harus kita bawa sendiri. Kalau perjalanan pendek kita tidak perlu bawa alat masak seperti kompor. Namun kalau perjalanan panjang 2-3 hari atau lebih, alangkah baiknya kalau kita bawa alat masak, agar kita bisa memasak dan meramu makanan sesuai selera kita.
Perlengkapan lain yang wajib kita bawa adalah alat komunikasi seperti walkie talkie, hp gsm atau hp satellite, kemudian bawa GPS dan peta. Alat ini berguna bila terjadi keadaan darurat, maka kita tetap bisa berhubungan dengan orang lain, menginformasikan kondisi dan keberadaan kita.
Namun, banyaknya barang yang kita bawa dalam ransel mengakibatkan konsekuensi lain, ransel menjadi berat dan akan membebani pendakian kita. Jadi bawalah ransel dan isinya sesuai kemampuan kita. Karena ransel yang berat tidak hanya akan membebani kita, namun juga membuat gerak kita lambat dan tenaga cepat terkuras. Akibatnya kita akan lemas, banyak keluar keringat dan bisa mengakibatkan dehidrasi. Bagilah barang bawaan dengan rekan seperjalanan, jika kita bawa tenda, biar teman lain bawa alat masak.
Packing
Kita bisa menyeleksi ulang barang bawaan kita, meninggalkan atau mengurangi jumlah barang yang dirasa tidak penting seperti mengurangi pakaian cadangan, karena kita tidak akan sering berganti pakaian di gunung. Pakaian cadangan biasanya di gunakan bila pakaian kita basah. Jadi kalau hanya mendaki 2-3 hari, bawalah satu set pakaian cadangan yang terdiri, satu kaos, satu celana panjang/pendek, dua celana dalam. Jangan terlalu banyak membawa makanan dan minuman kaleng. Bawalah makanan yang dibungkus dalam kemasan plastik atau kertas.

Kemudian letakan di bagian atas ransel raincoat agar ketika hujan mudah kita kenakan. Dan juga sweater dan satu potong pakaian kering. Ketika kita istirahat untuk makan siang, kita bisa mengganti pakaian basah dengan pakain kering, kemudian kita pake sweater agar badan kita tetap hangat.
Hati-hati dengan barang bawaan berupa elektronik seperti jam, camera digital, camcorder, hp, walkman, radio, cd player dan lain dari hujan. Masukan dalam plastik kedap air semua peralatan ini, kalau pelican brief case terlalu mahal, kita bisa memakai box lock and lock yang murahan namun kedap udara apalagi air.
Bila kita tidak ingin kehilangan momen selama pendakian, gantung camera digital atau camcorder di bahu kita, atau di tempat yang mudah dijangkau, namun jangan lupa siapkan plastik untuk jaga-jaga kalau hujan turun.
Perjalanan
Ketika mendaki gunung pakailah sepatu. Lebih bagus lagi kalau sepatu khusus untuk mendaki gunung atau hiking, yang didisain melindungi kaki maksimal dengan telapak atau sol yang mampu menapak lebih baik di tanah. Sepatu juga melindungi kaki dari cedera karena terkilir atau dari benda tajam. Memakai sandal gunung atau sandal jepit sangat beresiko, kaki tidak terlindung dari batu dan kayu tajam, licin dan tidak nyaman di telapak kaki. Sayangilah kakimu, karena dengan kaki yang sehat, kuat dan tidak sakitlah kita bisa menikmati gunung dengan segala keindahannya.
Kegiatan mendaki gunung adalah aktifitas yang berat, butuh tenaga dan konsentrasi tinggi untuk mengikuti kegiatan ini. Persiapkan badan dengan baik bila mau mendaki gunung. Berolah-raga beberapa minggu sebelum pendakian adalah persiapan terbaik, agar otot terlatih dan daya tahan badan kuat untuk menghadapi deraan fisik yang melelahkan.
